Brasil secara meyakinkan berhasil mempertahankan gelar juara Copa America setelah di partai final tahun ini mencukur favorit juara, Argentina, dengan skor telak 3-0. Tiga gol Brasil masing-masing tercipta dua di babak pertama dan satu di babak kedua. Adapun Argentina tampil anti klimaks dengan permainan miskin kreativitas terlepas dari rapatnya Selecao menjaga pertahanan.
Suksesnya Brasil merengkuh gelar Copa America untuk kedelapan kalinya ini memperlihatkan puncak grafik mereka. Di awal turnamen, Brasil selalu kesulitan untuk meraih kemenangan, termasuk kalah 0-2 dari Meksiko di laga perdana yang sempat menyudutkan posisi pelatih Carlos Dunga.
Sebaliknya, Argentina justru begitu digdaya sejak Copa America 2007 ini dimulai. Dari pertandingan pertama hingga semifinal, pasukan Alfio Basile ini sudah mengemas 16 gol. Namun apa lacur, pemegang gelar terbanyak Copa America bersama Uruguay ini, 14 trofi, harus tampil anti klimaks di laga final yang berlangsung di Stadion Jose Pachencho Romero, Maracaibo, Venezuela, hari Minggu (15/7).
Argentina yang tampil dengan seluruh pemain terbaiknya, minus penyerang Hernan Crespo yang cedera, dibuat tak berdaya oleh Brasil yang justru tampil dengan sejumlah pemain lapis kedua karena absennya gelandang Kaka dan Ronaldinho. Permainan cepat dengan satu-dua sentuhan ala Samba begitu menyulitkan para pemain Argentina, khususnya di lini belakang.
Brasil, yang tampil tanpa kapten Gilberto Silva, sudah unggul 1-0 ketika pertandingan baru berjalan empat menit melalui Julio Baptista yang melepas bola tendangan akurat dari sisi kiri pertahanan Argentina ke pojok kiri gawang Roberto Abondanzieri.
Semenit kemudian, gelandang Juan Roman Riquelme nyaris menyamakan kedudukan ketika bola tendangan kerasnya hanya menerpa mistar gawang Alexander Doni. Riquelme pun kembali mengancam gawang Brasil kala bola yang ditendangnya dimentahkan oleh Doni.
10 menit menjelang jeda, gawang Abondazieri kembali bergetar. Bola silang yang diluncurkan pemain pengganti Daniel Alves justru diubah menjadi gol bunuh diri oleh kapten Argentina, Roberto Ayala, yang bermaksud memotongnya di depan gawang.
Kedudukan 2-0 untuk Brasil membuat Argentina menyerang total sejak babak kedua dimulai. Namun tak banyak peluang yang bisa dihasilkan Tim Tango karena para pemain Brasil begitu rapat menumpuk pemain di depan gawang Doni.
Selain itu, pressing ketat yang dilakukan para pemain Brasil terhadap lawan, terutama kepada Riquelme, Juan Sebastian Veron dan Lionel Messi, juga membuat permainan Argentina tak berkembang.
Naiknya hampir seluruh pemain Argentina untuk menyerang justru membuat lini belakang berlubang. Kondisi ini dimanfaatkan Brasil untuk menciptakan gol ketiga melalui Daniel Alves lewat serangan balik di menit ke-69.
Kedudukan 3-0 yang bertahan hingga bubaran melengkapi prestasi Dunga yang sukses merebut trofi di kompetisi resmi pertamanya. Selain itu, skor tiga tanpa balas yang dipetik Brasil ini juga mengulang final yang sama tiga tahun lalu atas musuh yang sama pula. Gelar juarajuga menjadi sempurna dengan gelar top scorer yang diraih oleh penyerang Robinho dengan jumlah delapan gol. (Hdn)
|