Kesuksesan Irak menjuarai Piala Asia untuk pertama kalinya, Minggu (29/7), memakan korban jiwa. Dua orang dilaporkan tewas setelah terkena peluru nyasar yang ditembakkan oleh para penggemar yang tengah berpesta di kota Baghdad. Menurut sumber di Kementerian Dalam Negeri Irak yang dikutip kantor berita Cina Xinhua, selain dua orang tewas, peluru nyasar itu juga melukai 40 orang lainnya.
Ini adalah imbas dari perayaan besar-besaran ribuan rakyat Irak, terutama di Badghad, setelah pasukan Jorvan Vieira mengalahkan Arab Saudi 1-0 dalam partai final Piala Asia 2007 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta.
Sesaat setelah terjadi tembakan sporadis ke udara tersebut, penjaga perdamaian setempat langsung melarang tindakan itu dengan melakukan pengumuman melalui mesjid-mesjid. Namun, seorang polisi di Baghdad tetap ikut bergembira.
"Kami bangga terhadap perjuangan para pemain Irak, mereka bukan politikus rakus. Sekali lagi, tim nasional kami menunjukkan Irak harus bersatu," ujar Sabah Shaiyal, personil polisi berusia 43 tahun, yang menyindir pertikaian berdarah antara pengikut Shiah dan Shuni yang kini tengah terjadi di Irak.
Sementara itu kapten Irak, Younes Mahmood, yang juga pencetak gol tunggal kemenangan timnya, meminta AS untuk meninggalkan negerinya.
"Saya ingin AS keluar dari Irak. Tak penting kapan waktunya, intinya mereka harus keluar. Semoga Amerika tidak lagi menyerang rakyat Irak," ujar Younes yang malangnya tak akan pulang ke Irak.
"Saya tak mau rakyat Irak marah kepada saya. Jika saya kembali ke sana bersama tim, mungkin akan ada yang membunuh atau melukai saya," imbuh klub Al Gharafa Qatar ini dalam jumpa pers.
Sementara itu, pelatih Jorvan Vieira langsung mengundurkan diri pasca keberhasilan ini. Pelatih asal Brasil itu merasa tugasnya sudah selesai.
"Tugas saya sudah selesai dengan bentuk memberi kebahagiaan kepada rakyat Irak. Kepuasan saya jadi berlipat ganda karena bisa memberikan trofi juara dan sekaligus memberi kebahagiaan kepada negeri Irak. Itu yang paling penting," kata Vieira yang hanya mempersiapkan Irak selama dua bulan di Yordania.
"Saya dedikasikan gelar ini kepada keluarga korban tewas setelah kami menyingkirkan Korea Selatan di semifinal. Kami menghargai mereka," tambahnya.
Adapun pesta menyambut gelar juara juga terjadi di Damascus, Suriah, yang dilakukan oleh sekitar 3.000 orang pengungsi Irak. Sementara di Dearborn, Michigan, AS, imigran Irak berpesta di jalan dengan membunyikan klakson mobil dan mengibarkan bendera Irak sambil duduk di atas kap mobil. (Hdn/AP/Xinhua)
|