Hasil imbang dengan Siena serta kekalahan dari AC Milan memunculkan kekhawatiran bagi Inter Milan atas insiden di musim 2002 saat mereka gagal meraih scudetto.
Ketika itu mereka hampir dipastikan menjadi juara dan hanya membutuhkan kemenangan di laga terakhir, namun mereka takluk 2-4 dari Lazio sedangkan Juventus, yang menjadi rival terberatnya, meraih kemenangan dan secara otomatis menggeser posisi Inter di puncak klasemen.
Apabila hal ini terulang kembali, maka Inter akan lebih terkejut dan memberikan sinyal dari salah satu kegagalan terbesar di dalam sepakbola moderen.
Pada pertengahan Februari tahun ini pasukan Roberto Mancini tersebut telah unggul 11 poin, namun dengan satu pertandingan tersisa mereka hanya unggul satu poin atas AS Roma.
Kekalahan 1-2 dari Milan dua pekan lalu merusak kepercayaan diri Inter, namun mereka selalu mengerti bahwa laga kandang melawan Siena akan memberikan kesempatan sempurna untuk merengkuh gelar Serie A.
Akan tetapi, Inter justru hanya mampu bermain imbang 2-2 dengan Siena setelah peluang terakhir mereka melalui eksekusi penalti Marco Materazzi gagal menjadi gol setelah ditepis oleh kiper Alex Manninger.
Setelah membantu Italia menjuarai Piala Dunia di Jerman dua tahun lalu dan membawa Inter meraih gelar Serie A di tahun 2007, aterazzi telah menjadi idola klub. Namun kali ini tidak lagi.
"Pahlawan di Berlin kembali ke bumi dan kehilangan pendukungnya," tulis harian La Gazzetta dello Sport.