Liga de Quito meraih trofi juara Piala Sudamericana meski kalah 3-0 dari tuan rumah Fluminense pada final leg kedua hari Kamis (3/12). Fluminense, yang didukung lebih dari 90 ribu pendukung di Stadion Maricana, Rio de Janeiro, Brasil, berhasil unggul telak lewat gol Diguinho, Fred dan Gum dalam pertandingan satu arah. Namun ketiga gol itu tak cukup untuk menggagalkan Quito karena pada pertemuan pertama di Ekuador pekan lalu Fluminense kalah 1-5 sehinga agregat keunggulan Quito menjadi 5-4.
Kegagalan bagi Fluminense semakin menyakitkan karena Quito sebenarnya dipaksa bermain dengan 10 orang sejak menit ke-18 setelah Ulises De La Cruz mendapat kartu merah karena pelanggaran keras.
Namun di babak kedua, Fluminense juga harus bermain dengan 10 orang setelah Fred diusir wasit pada menit ke-76.
"Kami tahu pertandingan di Maracana pasti sulit. Beruntung kami punya bekal gol di Ekuador sehingga bisa menjadi pembeda di sini," ujar gelandang Quito Diego Calderon.
Bagi Quito, ini adalah keberhasilan ketiga di ajang regional dalam waktu dua tahun. Tahun 2008 lalu, Quito menjuarai Piala Libertadores, diikuti oleh gelar Recopa Sudamericana pada awal 2009 dan yang terbaru adalah Piala Sudamericana yang selevel dengan trofi Liga Europa di Eropa.
Di sisi lain, pelatih Fluminense, Cuca, mengucapkan selamat kepada Quito. "Mereka berhasil berkat permainan di Ekuador sehingga mereka hanya bertahan di Maracana. Mereka bahkan hanya melepas satu tembakan ke gawang kami. Tapi kami harus memberi selamat kepada mereka," tukas Cuca.
Sebenarnya Fluminense hanya membutuhkan satu gol lagi untuk merekruh trofi juara. kedudukan 5-5 secara agregat akan membuat Quito terdepak karena kalah produktif di kandang lawan. Tetapi usaha Fluminense melalui serangan frontal hingga menit terakhir tetap tak membuahkan hasil.
"Sayang sekali tiga gol itu tak cukup. Kami sudah berusaha sekuat tenaga, tetapi satu gol terakhir yang kami butuhkan tak kunjung tercipta," keluh striker Alan. (Hdn/Reuters)
|